You could put your verification ID in a comment Or, in its own meta tag Or, as one of your keywords

Jumat, 26 November 2010

SESAL

Brak!! Dita membanting pintu kamarnya. Rasa geram dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Kenapa sih dia harus mengaturku? Padahal dia kan hanya pacar, belum menjadi suamiku. Tapi mengaturku melebihi ibuku, pikir Dita. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada satu pesan masuk. “Gimana Ta jadi nggak ikut pesta di rumahnya Rico???” begitu isi pesan dari Mira. Setelah sejenak berpikir akhirnya ia setuju untuk ikut pergi ke pesta. Memang Toni siapa berani melarangku. Kalau hanya pacar aku bisa cari lagi, pikirnya.
Lalu malam itu Dita pun pergi dijemput Mira dengan beralasan ingin belajar bersama dan menginap di rumah Mira pada ibunya. Ia benar-benar ingin menunjukkan pada Toni bahwa aku sama sekali tidak takut dan tidak mau patuh pada semua aturan dan larangan Toni. Untuk itu ia menenggak minuman keras yang disediakan di situ. Minuman yang selama ini sama sekali tak pernah disentuhnya. Hingga ia pun tak sadarkan diri.
Keesokkan harinya ketika ia bangun ia terkejut karena Rico tidur di sebelahnya. Dan tubuhnya tak tertutupi oleh sehelai benang pun. Ia pun menangis. Ia menyesal karena telah mengabaikan larangan Toni. Dengan sedikit perasaan ragu dirahinya ponselnya dan menelepon Toni.
“Buat apa ngubungn aku lagi. Nikmatin aja apa yang udah kamu lakuin. Nggak usah peduliin aku lagi. Sekarang kamu bisa bebas nglakuin apapun semaumu. Udah nggak ada lagi yang ngatur-ngatur kamu. Dan kamu juga nggak perlu lagi njaga kepercayaan yang aku kasih,” kata Toni tanpa Dita sempat berkata apapun. Tangis Dita pun semakin menjadi. Dalam hati ia sungguh menyesali apa yang telah ia lakukan.
Hari berganti hari, Dita semakin terjerumus dalam kesalahannya. Terlebih semenjak usaha ayahnya bangkrut. Semua pekrjaan ia lakukan. Mulai dari pelayan bar, penari striptis, hingga pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Ia merasa dirinya tak lagi berharga semenjak kejadian itu.
Hingga suatu malam di bar tempat ia bekerja datang seorang pria berpakaian sangat rapi. Dan ternyata pria itu adalah Toni. Sebenarnya Dita sangat malu untuk bertemu dengan Toni, tetapi ia sudah terlanjur terlihat oleh Toni dan ia tak mampu lagi untuk menghindar.
“Hai, apa kabar?” sapa Toni.
“Yah gini lah kayak yang kamu lihat,” jawab Dita.
“Dit, kalau boleh jujur sebenarnya aku menyesal ninggalin kamu waktu itu. Aku tahu itu bukan sepenuhnya kesalahanmu.”
“Udahlah lupain aja yang kemarin-kemarin. Aku juga udah males ngingatnya.”
“Dit, aku masih sayang sama kamu. Aku mau kita kembali kaya dulu lagi.”
“Tapi Ton, kamu kan tahu keadaanya sekarang jauh berbeda. Kita nggak mungkin kembali kayak dulu lagi. Aku sekarang udah jadi wanita yang paling hina.”
“Aku nggak peduli Dit. Asalkan kamu mau kembali ke aku. Kita bisa ngulang semuanya dari awal.”
“Ton, sebenarnya aku juga masih sayang sama kamu. Tapi aku nggak mungkin bisa kembali ke kamu. Biar aku jalanin dan nikmatin akibat dari kesalahanku sendiri. Aku nggak mau ada orang lain yang ikut menanggung akibat dari kesalahanku. Kamu masih punya masa depan Ton. Beda sama aku,. Aku udah nggak punya lagi masa depan. Masa depanku udah kuhancurin sendiri. Cari aja perempuan yang lebih baik dan pantas untukmu. Memang benar apa yang pernah kamu bilang. Orang tuaku memang salah. Bukan kamu yang nggak pantas untukku, tapi aku yang nggak pantas buat kamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar