You could put your verification ID in a comment Or, in its own meta tag Or, as one of your keywords

Senin, 13 Februari 2012

KEESOKAN HARINYA

Sengaja aku terbangun lebih awal pagi ini berharap embun yang turun pagi ini mampu melunturkan rasa rindu padamu yang semakin bergumpal dalam hati. Tapi apa daya, embun hanya mampu menyapu debu yang melekat di dedaunan. Masih tetap saja belum mampu melepaskan belenggu rindu dalam hati ini.
Ruang khayalku ini semakin penuh saja dengan gambaran senyummu. Ya, senyum yang terlalu indah untuk tak dinikmati. Senyum yang tentu saja menggugah semangat siapapun. Senyum yang selalu kau coba bagikan pada semua orang. Ah, seandainya saja aku bisa mengumpulkan senyuman-senyuman untukku sendiri.
Aku tahu, dunia semakin menertawakanku. Aku yang selama ini angkuh dengan hati batuku kini luluh. Hati yang selama ini kubanggakan telah menjadi renyah dan rapuh. Aku bagaikan ranting kecil yang tinggal menunggu saatnya patah diterpa angin dan hujan.
Memang aku butuh sentuhan jemari lembutmu untuk membuatku bersemi kembali. Tetapi, sesungguhnya dengan kamu tahu bahwa jauh di sini ada sebatang ranting kering yang selalu merindukanmu, bagiku itu merupakan anugerah yang terlalu indah untuk tidak disyukuri.
Ya, sinar mentari pagi ini masih belum juga menembus sudut hati yang telah terselimuti bayanganmu. Aku tidak pernah belajar seni memahat, bahkan aku tidak tahu apapun tentang pahat memahat. Tapi aku tidak tahu mengapa tanpa sengaja dalam hati ini terukir nama yang begitu indah. Ya, nama itu adalah namamu. Semakin aku mencoba menghapus ukiran itu, semakin saja ukiran itu bertambah kuat dan indah. Aku menyerah. Akhirnya aku putuskan untuk menjaga dengan baik ukiran yang telah tercipta itu. Sebagai bukti bahwa aku telah mengagumi dan menyayangimu. Mungkin saja kepingan ukiran itu mampu menjadi senjataku untuk menghadapi setiap liku dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar