You could put your verification ID in a comment Or, in its own meta tag Or, as one of your keywords

Rabu, 27 Oktober 2010

TANPA JUDUL


Namaku Vyna Anandita Restyana. Aku punya adik namanya Vany Ardisty Restyanti. Kami berdua adalah saudara kembar. Aku hanya lebih tua beberapa detik dari Vany. Dari ujung kaki hingga ujung kepala kami berdua sama persis. Tetapi entah mengapa adikku lebih disukai oleh orang-orang. Termasuk kedua orang tuaku. Mereka memperlakukan adikku lebih istimewa dibanding aku. Padahal, aku dan adikku nyaris tak ada beda. Memang adikku lebih mudah bergaul dengan orang lain, tetapi bukan berarti aku tidak bisa bergaul dengan baik dengan orang lain.
Saat adikku mendapat peringkat kedua ketika kami kelas 2 SMA, orang tuaku begitu membanggakannya. Mereka membelikan apa yang adikku minta. Tetapi, tahun berikutnya ketika aku mendapat peringkat pertama, orang tua tak memberi respon apapun. Dalam banyak hal aku harus lebih mengalah pada adikku. Aku iri pada adikku.
Terlebih ketika dia berpacaran dengan laki-laki yang aku suka. Rasa iri pada adikku lambat laun berubah menjadi benci. Dan akar-akar benci itu semakin lama semakin kuat mencengkeram dalam hatiku. Berkali-kali aku mencoba menyakiti adikku, tetapi dia selalu saja memaafkanku.
Hingga sampailah aku pada puncak kebencianku. Aku ingin mendapatkan semua perhatian yang selama ini selalu adikku dapatkan. Dan setan benar-benar memanfaatkan kesempatan itu. Dia memberiku ide yang sangat busuk.
Kebetulan sekali saat itu aku dan adikku mengikuti perkemahan. Berhubung kami membawa tenda yang kecil, tenda itu hanya berisi aku dan adikku. Dan tenda terletak paling ujung. Sebelum tidur aku memberikan adikku minuman yang telah kuberi obat tidur. Setelah adikku terlelap, aku mengganti bajuku dengan baju adikku dan mengganti baju adikku dengan bajuku. Dengan begitu semua orang akan menyangka bahwa aku adalah adikku. Lalu diam-diam aku keluar. Tenda yang berisi adikku kubakar lalu aku bersembunyi ke semak-semak. Setelah orang ramai berkumpul untuk menolong adikku aku datang seolah-olah baru selesai buang air.
Setelah api padam, adikku dikeluarkan. Dan ternyata rencanaku berhasil. Adikku dikeluarkan tanpa nyawa. Aku berpura-pura shock dan sedih. Namun dalam hati tertawa karena berhasil melenyapkan adikku. Kini tugasku adalah berpura-pura menjadi adikku.
Orang tuaku tampak terpukul melihat kematianku yang “diperankan” adikku. Bahkan, berhari-hari ibuku tidak mau makan. Hingga suatu hari aku mendengar percakapan ayah dan ibuku.
“Udah bu jangan sedih terus. Ikhlasin aja dia pergi,” kata ayahku.
“Tapi pak, dia satu-satunya harapan keluarga kita. Vany tak mungkin bisa diharapkan lagi. Karena kanker yang menyerangnya takkan memberinya waktu yang lebih lama,” kata ibuku.
“Tapi itu udah kehendakNya, Bu.”
“Sebentar lagi kita akan kehilangan semua anak kita, Pak,” kata ibuku sembari air matanya membanjiri pipinya.
Mendengar hal itu aku menjadi sedih. Aku merasa bersalah dengan semua yang kulakukan. Aku menyesal. Tidak seharusnya aku melakukan semua ini pada adik kembarku sendiri.
Lagi-lagi setan memanfaatkan rasa bersalah dan menyesalku itu. Dia menyarankanku untuk bunuh diri. Dan lagi-lagi aku menyetujuinya. Kusiapkan anti nyamuk cair dalam gelas. Dengan mantap hati aku dekatkan gelas itu dengan bibirku. Namun, ketika gelas nyaris menyentuh bibirku, tiba-tiba aku teringat pada kata-kata ibuku. “Sebentar lagi kita akan kehilangan semua anak kita, Pak”. Lalu aku sadar. Aku tidak akan membiarkan apa yang dikatakan ibuku terjadi. Aku tidak ingin membuat orang tuaku semakin sedih. Aku urungkan niatku untuk bunuh diri.
Akhirnya, dengan perasaan yang bercampur aduk aku memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Mereka sangat terkejut. Tapi, anehnya mereka tidak marah padaku. Mereka berkata padaku bahwa selama ini mereka memperlakukan adikku lebih, karena adikku terkena kanker dan umurnya tidak lama lagi.
“Maafin aku, Pak, Bu. Aku nyesel. Aku rela kalau Bapak ma Ibu mau laporin aku ke polisi,” kataku.
“Kami nggak bakal nglakuin itu. Kami nggak mau kehilangan anak kami untuk kedua kalinya. Biar ini jadi rahasia kita.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar